Aceh Tengah dan Uzbekistan Teken MoU Kopi

kopi gayoJakarta – Bupati Aceh Tengah Ir H Nasaruddin dan Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia Shavkat Jamolov, menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) kerjasama perdagangan kopi. Penantanganan MoU tersebut dilakukan dalam acara Festival Kampung Kopi dan Cokelat, Minggu (07/12/2014) di Plaza Selatan Senayan, Jakarta.

Acara tanda tangan MoU perdagangan kopi antara Kabupaten Aceh Tengah dan Negara Uzbekistan tersebut, turut disaksikan oleh Isran Noor, selaku ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Se-Indonesia (APKASI) yang juga penyelenggara Festival Kampung Kopi dan Cokelat 2014.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Tengah, Munzir, SE, MM mengatakan, MoU tersebut berisi materi kesepahaman yang disepakati, berupa kerjasama membangun dan mengembangkan kegiatan perdagangan, industri dan produksi kopi Gayo di Aceh Tengah.

“Lebih rinci nanti MoU akan ditindaklanjuti dalam perjanjian tersendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak dan ketentuan yang berlaku,” ujar Munzir.

Menurut Munzir, MoU tersebut akan berlaku selama tiga tahun sejak ditandatangani dan dapat diperpanjang dengan perjetujuan kedua belah pihak.

Festival Kampung Kopi dan Cokelat

Potensi kakao dan kopi Indonesia sangat besar dan tersebar diberbagai penjuru nusantara dan merupakan salah satu kekuatan ekonomi. Sayangnya, potensi ini masih belum diberdayakan secara maksimal, padahal tidak banyak negara lain yang mampu menghasilkan produk komoditi tersebut.

Peluang Indonesia menjadi pemasok terbesar kopi dan kakao sangat terbuka lebar, tinggal bagaimana mempromosikan dan memasarkan keunggulan komoditi tersebut ke pasar dunia.

Demikian disampaikan oleh Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin, yang dipercaya APKASI sebagai ketua panitia pelaksana Festival Kampung Kopi dan Cokelat 2014. Festival dibuka langsung oleh Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian RI, Yusni Emilia Harahap dan Ketua Umum Apkasi, Isran Noor, Sabtu (06/12/2014).

Melihat kesempatan yang sangat menguntungkan secara ekonomi, kata Nasaruddin, APKASI selaku wadah organisasi Pemerintah Kabupaten seluruh indonesia, berupaya untuk melaksanakan kegiatan promosi.

“Inilah yang menjadi latar belakang pelaksanaan kegiatan Festival Kampung Kopi dan Cokelat yang berlangsung 6-7 Desember 2014, di Plaza Selatan Senayan Jakarta, ini,” ujar Nasaruddin.

Menurut Nasaruddin, acara tersebut adalah upaya APKASI mempromosikan dan menciptakan peluang kerjasama bisnis dan investasi, serta pengembangan dan pemberdayaan produk komoditi kakao dan kopi seluruh daerah Kabupaten penghasil komoditi tersebut.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membangun jaringan bisnis daerah penghasil kakao dan kopi, sehingga mampu menjadi salah satu sektor yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah,” katanya.

Festival ini, kata Nasaruddin, diisi dengan kegiatan pameran produk kopi dan kakao, serta produk teknologi pendukungnya. Selain itu, juga ada kegiatan lain seperti pertemuan bisnis antara para pengambil kebijakan di daerah dengan para pelaku bisnis dan calon investor.

Selama dua hari pelaksanaan festival ini, sambung Nasaruddi, juga dilakukan demo-demo pengolahan produk makanan dan minuman berbahan baku kakao dan kopi oleh peserta pameran. Hasil olahan tersebut dibagikan secara gratis kepada seluruh pengunjung.

Festival Kampung Kopi dan Cokelat diramaikan oleh 21 Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Indonesia, dua Instansi Pemerintah dan 10 pihak swasta.

Even akbar yang menjadi seri agribisnis dari kegiatan promosi Apkasi International Trade Invesment Summit (AITIS) tersebut bertemakan “Membangun Kemitraan Bisnis dan Investasi Kopi dan Cokelat di Daerah Kabupaten”.

Sedangkan ketua APKASI, Isran Noor menuturkan, saat ini ekspor kopi indonesia masih relatif sedikit, dibandingkan negara-negara penghasil lainnya. Hal ini, kata dia, disebabkan daerah-daerah penghasil, belum memaksimalkan produksi kopinya

Untuk komoditi kakao, Isran Noor mengatakan, saat ini Indonesia merupakan negara penghasil kakao ketiga terbesar setelah Pantai Gading dan Ghana.

“Karena itu, perlu dilakukan terobosan strategis agar kopi dan kakao Indonesia dapat lebih dilirik oleh para pelaku usaha dalam maupun luar negeri. Sehingga para petani dan daerah penghasil kakao benar-benar dapat menikmati hasil dari produksi mereka,” jelasnya.

Sementara Dirjen Pengolahan dan Pemasaran hasil pertanian, Yusni Emilia Harahap mengatakan, sebagian besar kopi dan cokelat dihasilkan dari perkebunan rakyat atau petani, sehingga masih dibutuhkan pembenahan dalam rangka produksi dan mutu.

Selain itu, menurutnya. kedepan tantanan ekonomi semakin terintegrasi, seperti Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, karena itu diperlukan kesiapan yang semakin kuat dan menyeluruh untuk menghadapinya.

“Untuk sektor pertanian mutlak dituntut produk yang berdaya saing, berkualitas, dan harga yang kompetitif,” ujarnya.

Yusni menambahkan, berbagai tantangan tersebut harus diatasi, dengan dilakukan upaya percepatan yang terintegrasi dan berkesinambungan melalui dukungan bisnis dan investasi yang signifikan. (MK)

Sumber:
http://atjehlink.com/aceh-tengah-dan-uzbekistan-teken-mou-kopi/

Kopi Arabika Indonesia Segar


Leave a Reply

Your email address will not be published.