Genjot Produksi Nasional, Puslitkoka Jember Teliti Kopi Arabika Dataran Rendah

33_gambar wallpaper kopiArif Purba | Senin, 20 Mei 2013 12:27 WIB

Diharapkan, komoditas kopi Arabika bisa ditanam di daratan rendah berketinggian 700 mdpl (meter diatas permukaan laut).

JEMBER, Jaringnews.com – Peneliti Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) di Jember, mengadakan penelitian komoditas kopi jenis Arabika yang bisa ditanam dan dibudidayakan di lahan dataran rendah. Selama ini, komoditas kopi Arabika hanya dikembangkan di daratan tinggi berhawa sejuk, seperti di punggung pegunungan yang ada di Pulau Jawa..

Dengan penelitian Puslitkoka Indonesia di Jember tersebut, diharapkan nantinya komoditas kopi Arabika bisa ditanam di daratan rendah berketinggian 700 mdpl (meter diatas permukaan laut). Proses transformasi dari kopi jenis Robusta ke Arabika bisa dilakukan dengan cara “sambung pucuk”. Setelah pertumbuhan tanaman kopi Arabika semakin bagus, maka secara bertahap jumlah tanaman kopi Robusta akan dikurangi.

Peneliti Puslitkoka di Jember, Yusianto, mengatakan, melalui program “sambung pucuk” tersebut, maka belakangan ini ada tren peningkatan budidaya kopi Arabika yang semula hanya 10 prosen dari total produksi kopi Indonesia, kini menjadi 15 prosen.

“Dalam satu dasa warsa kedepan, kami harapkan nantinya kopi jenis Arabika bisa meningkat 30 prosen produksi kopi Indonesia. Sungguh pun begitu, dukungan petani kopi memiliki peran penting untuk meningkatkan produktivitas kopi Arabika,” tutur Yusianto, Senin (20/5).

Menurut Yusianto, kopi Arabika yang tumbuh dan dikembangkan di dataran rendah di Jember hendaknya tidak diberi citra kopi khusus (specialty) Java Coffee. Menurut Yusianto, perlu ada citra baru sebagai speciality coffee. Specialty di sini, menurut International Trade Centre UNCTAD/WTO (2005), merujuk pada biji kopi yang dijual khusus, dan minuman kopi yang dijual pada kedai kopi khusus.

“Ini meliputi kopi berkualitas tinggi, baik single origin maupun blend, kopi yang bercitarasa spesial, kopi dengan latar belakang tidak umum, atau kopi dengan riwayat khusus atau aneh. Dan pemberian citra specialty coffee ini telah biasa digunakan konsumen kopi di pasaran Amerika Serikat,” jelas Yusianto.

Menurut Yusianto, pengembangan kopi Arabika di dataran rendah bisa memberikan keuntungan lebih bagi keluarga petani. Sebab, dari sisi harga, kopi Arabika lebih menguntungkan daripada Robusta. Harga jual kopi Arabika bisa menembus dua kali bahkan tiga kali harga kopi Robusta.

Sayangnya ada kebiasaan dan tradisi di kalangan petani kopi yang mempercayai perbedaan ketinggian daratan akan memberikan perbedaan kualitas. Petani masih percaya adegium semakin tinggi daratan semakin baik untuk komoditas kopi. Semakin tinggi daratan maka semakin tinggi memberikan keuntungan bagi petani kopi. Padahal, adegium itu salah dengan teknik sambung pucuk kopi robusta dengan arabika.

“Pada kebanyakan komunitas petani kopi, muncul anggapan bahwa cita rasa kopi terpengaruh pada ketinggian dataran tempat budidaya. Padahal, cita rasa kopi tidak berkorelasi dengan dataran lahan. Baik dataran rendah maupun dataran tinggi,” kritik Yusianto..

Menurut Yusianto, cita rasa kopi justru lebih didominanasi oleh jenis, klon, varietas tanaman, dan kesehatan tanaman dibandingkan pengaruh iklim, tanah, daerah asal, dan ketinggian.

Faktanya, di Hawaii ada kopi Arabika yang dikembangkan di dataran rendah dan mendapat predikat kopi khusus (specialty), yakni Kona Coffee. Kopi Arabika Gayo dibudidayakan di ketinggian 900 mdpl dan pernah menjadi juara ketiga kontes kopi specialty Indonesia. “Sekali lagi, cita rasa kopi samasekali tidak dipengaruhi dataran,” pungkasnya.
(Arp / Deb)

Sumber:
http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/41190/genjot-produksi-nasional-puslitkoka-jember-teliti-kopi-arabika-dataran-rendah

Kopi Arabika Indonesia Segar


Leave a Reply

Your email address will not be published.