Kopi Luwak Solusi Meningkatkan Pendapatan Petani Kopi

gambar kopi luwakKopi Luwak,

Solusi Meningkatkan Pendapatan Petani Kopi

Oleh : Eli Paska Siahaan, SP

I. PENDAHULUAN

Kata kopi berasal dari bahasa Arab qahwah yang berarti kekuatan. Arti qahwah adalah kekuatan karena pada awalnya kopi sendiri digunakan sebagai makanan (minuman) berenergi tinggi. Kata qahwah kemudian mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kembali berubah menjadi koffie dalam bahasa Belanda serta coffee dalam bahasa Inggris. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang dikenal luas saat ini (Buldani, 2011).

Meski di seluruh dunia ada sekitar 70 varietas tanaman kopi, dari yang berukuran seperti semak belukar hingga pohon dengan tinggi 12 meter, hanya ada 2 jenis varietas kopi yang diproduksi karena nilai ekonominya tinggi, yakni kopi arabika (coffee arabica) dan kopi robusta (coffee robusta). Kedua varietas kopi ini tentu saja memiliki keunikannya masing-masing (Buldani, 2011).

Di Indonesia, usaha budi daya tanaman kopi pada umumnya diusahakan oleh rakyat. Petani biasanya menjual kopi dalam bentuk gelondongan maupun dalam bentuk gabah. Padahal petani telah memiliki kearifan lokal untuk mengolah kopi sampai pada bubuk kopi. Kearifan lokal yang dimiliki petani pada hakikatnya adalah potensi yang dapat dimanfaatkan petani untuk menambah pendapatan. Salah satu diantara kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan petani adalah usaha (bisnis) kopi luwak. Bisnis kopi luwak sangat berkembang saat ini. Tren produk organik dan kesadaran konsumen terhadap kesehatan yang cukup tinggi saat ini, juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang dan faktor pendorong bagi petani untuk mengusahakan kopi luwak dalam skala rumahan (home industry). Dengan latar belakang inilah penulis membuat tulisan ini.

  1. I.      KOPI DAN NILAI EKONOMINYA

Kopi Arabika  

Kopi arabika yang telah menguasai 70 persen pasar kopi dunia ini berasal dari Ethiopia dan Brasil. Sebagian besar kopi yang ada di dunia berasal biji kopi jenis ini. Kopi arabika memiliki banyak sebutan, tergantung negara, iklim, dan tanah tempat kopi ditanam. Kita dapat  menemukan kopi arabika dengan sebutan kopi Toraja, kopi Mandailing, kopi Kolumbia, kopi Brasilia, dan lain sebagainya. Antara kopi arabika yang satu dengan yang lain punya rasa maupun aroma yang beda. Saat ini, kopi arabika telah dibudidayakan di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan Indonesia. Secara umum, kopi ini tumbuh pada ketinggian 800-1.900 meter di atas permukaan laut. Tinggi tanaman dapat mencapi 3-6 meter bila kondisi lingkungannya baik. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 18-26 0C. Daun kopi arabika lebih tipis dan kecil dari pada kopi lainnya. Produksi kopi arabika ini cukup rendah, dan biji kopi yang dihasilkan berukuran cukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap (Buldani, 2011).

Kopi arabika memiliki aroma wangi sedap mirip percampuran bunga dan buah. Juga memiliki rasa asam yang tidak dimiliki oleh kopi jenis robusta. Kopi jenis ini juga memiliki bodi atau rasa kental saat dicicipi di mulut. Rasa kopi arabika lebih mild atau halus dibandingkan kopi lainnya. Selain itu, kopi arabika terkenal sedikit pahit. Harga kopi arabika (non luwak) berkisar antara Rp 32.000, s/d Rp40.000,- per kg (Buldani, 2011).

Kopi Robusta  

Kopi robusta menguasai 30 persen pasar kopi di dunia. Kopi robusta pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1898. Kopi ini tersebar di Indonesia, Filipina, Afrika Barat, Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Sama seperti kopi arabika, kondisi tanah, iklim dan proses pengemasan kopi ini akan berbeda untuk setiap negara dan menghasilkan rasa yang sedikit banyak juga berbeda. Kopi robusta dapat dikatakan sebagai kopi kelas dua setelah kopi arabika, karena rasanya yang lebih pahit, sedikit asam, dan mengandung kafein dalam kadar yang jauh lebih tinggi daripada arabika. Selain itu, cakupan daerah tumbuh kopi robusta lebih luas dari pada kopi arabika yang harus ditumbuhkan pada ketinggian tertentu. Kopi robusta dapat tumbuh pada ketinggian maksimum 800 m di atas permukaan laut. Di samping itu, kopi jenis ini lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit. Hal ini menjadikan kopi robusta lebih murah, yakni berkisar antara Rp 18.000,s/d 23.000,- per kg (Buldani, 2011).

Ciri-ciri lainnya dari kopi robusta ini adalah bentuk buahnya bulat telur, kebanyakan berbiji dua, produksinya lebih tinggi ketimbang kopi arabika, daunnya lebih lebar memanjang dengan pangkalnya bulat dan berdaun rimbun. Kopi robusta mengandung rasa yang lebih pahit seperti cokelat, bau yang dihasilkan khas dan manis, warnanya bervariasi sesuai dengan cara pengolahannya, dan memiliki tekstur yang lebih kasar daripada kopi arabika (Buldani, 2011).

Luas kebun kopi rakyat di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2009 menurut data BPS Sumatera Utara adalah sebagai berikut :

   Jenis Tanaman

Type of Plant

Luas Tanaman / Area

T.B.M.   Not Yet Productive

T.M.    Productive

T.T.M.Unpro-DuctiveJumlah   Total(1)(2)(3)(4)(5)  1.  Karet /Rubber51 758,94282 898,0441 418,95388 017,39  2.  Kelapa Sawit/Palm Oil54 430,05335 117,133 174,27400 712,65  3.  Kopi   – Arabika14 924,3739 421,552 795,9757 129,28                  – Kopi Robusta1 097,4012 686,778 618,9322 508,21  4.  Kelapa/Coconut9 285,4191 870,429 602,06109 455,79  5.  Coklat/Cocoa19 744,9442 618,263 727,7565 531,11  6.  dst……………

 

(http://sumut.bps.go.id)

Sedangkan produksi kopi rakyat di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2009 menurut data BPS Sumatera Utara adalah :

Jenis Tanaman

Type of Plant2006200720082009(1)(2)(3)(4)(5)       1.  Karet /Rubber347 158,52362 882,20363 158,59388 017,93  2.  Kelapa Sawit/Palm Oil363 095,36367 741,13379 853,02400 712,45  3.  Kopi    – Arabika50 310,2453 869,3656 390,8157 141,89                   – Kopi Robusta28 651,7925 110,7423 993,3622 403,10  4.  Kelapa/Coconut122 344,74121 079,17114 519,85110 751,89  5.  Coklat/Cocoa49 171,9456 428,4860 221,2266 090,95  6.  dst..…………

(http://sumut.bps.go.id)

Melihat data tersebut diatas, provinsi Sumatera Utara sangat potensial sebagai sentra produksi kopi, dan sangat potensial untuk mengembangkan usaha (Agribisnis) kopi luwak.

Kopi Luwak

Dari pengolahan kopi arabika dan robusta, ada jenis kopi yang sudah melegenda, yakni “ kopi luwak “.  Kopi luwak asli khas Indonesia telah masyhur ke seantero dunia sebagai kopi terbaik dan termahal di dunia dan masuk dalam Guiness Book of Records sebagai kopi legendaris yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi (Buldani, 2011).

Sejarah Kopi Luwak

Asal mula Kopi Luwak (Civet Coffee) berkaitan erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan Tanaman Komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya adalah kopi Arabika dan Robusta yang didatangkan dari Yaman.

Pada era “Tanam Paksa” 1830—1870, Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, padahal penduduk lokal ingin sekali mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Akhirnya pekerja perkebunan menemukan bahwa ada biji-biji kopi diatas tanah yang ternyata adalah kotoran musang (luwak) yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya kelenjar (manis) daging buahnya saja yang tercerna, kulit tanduk (email) dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi yang adalah kotoran luwak ini kemudian dipungut, dicuci, disangrai, ditumbuk, dan diseduh dengan Air Panas, dan ternyata Aroma dan Rasa kopinya Nimat., inilah yang disebut Kopi Luwak.

Kabar kenikmatan Kopi Aromatik ini akhirnya tercium oleh Warga Belanda pemilik perkebunan, sehingga kemudian Kopi ini menjadi Kegemaran Orang Kaya Belanda. Karena kelangkaan serta proses pembuatannya yang tidak lazim, Kopi Luwak pun menjadi kopi yang mahal sejak Zaman Kolonial.

  Secara sederhana, kopi luwak adalah kopi yang dihasilkan oleh hewan/binatang luwak (musang). Kopi luwak berasal dari biji kopi arabika atau kopi robusta yang sudah melewati proses fermentasi secara alami dalam perut atau pencernaan hewan luwak. Kopi luwak adalah buah kopi yang matang di pohonnya yang dimakan oleh binatang luwak dan mengalami proses fermentasi secara alami dalam pencernaan luwak selama 8-12 jam. Kemudian kopi tersebut dikeluarkan kembali (feces) dalam keadaan utuh. Jadi, didalam pencernaan luwak biji kopi tersebut tetap utuh dan tidak tercerna akibat kulit tanduk kopi yang keras. Luwak hanya melumat zat pemanis (lendir) yang melapisi biji kopi, sedangkan kulit luarnya tidak dimakan namun di keluarkan lewat bagian samping mulutnya, sehingga kopi yang ditelan oleh luwak adalah hanya biji kopinya saja Feces yang keluar masih berupa kopi utuh dengan bentuk biji kopi. Biji kopi inilah yang disebut dengan kopi luwak.

Gambar 1. Luwak dalam penangkaran dan kopi luwak yang dihasilkan 

Kopi Luwak dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai oleh-oleh istimewah untuk Pendana Menteri Australia, Kevin Rudd, pada kunjungannya ke negeri Kanguru di awal bulan Maret 2010. Kopi luwak juga menjadi sorotan masyarakat dunia pada World Expo 2010 Shanghai, China (WESC 2010). Sebelum itu, kopi luwak muncul di film The Bucket List yang dibintangi aktor Hollywood Jack Nicholson. Kopi luwak juga muncul di bahas dan di ulas tuntas pada acara Oprah Winfrey yang sangat terkenal (sebuah acara talkshow sangat terkenal di Amerika). Dengan sangat meyakinkan Oprah Winfrey menunjukan kemasan kopi luwak ke seluruh jutaan pemirsa di seluruh dunia dalam salah satu episode talkshow-nya akhir tahun 2009 lalu (Buldani,2011).

Gambar 2. Kopi luwak dan salah satu episode talkshow Oprah Winfrey 

II.      PRODUKSI KOPI LUWAK

Luwak adalah hewan menyusui (Mamalia) yang termasuk suku musang dan garangan (Viverridae). Luwak termasuk binatang Nokturnal yang hidup aktif mencari makan di malam hari. Adapun taksonomi luwak atau musang adalah :

Kingdom       : Animalia

Filum             : Chordata

Kelas             : Mamalia

Ordo              : Carnivora

Family            : Viverridae

Genus            : Paradoxurus

Spesies         : Paradoxurus hermaphroditus.

Secara umum, jenis luwak atau musang ini dapat dibedakan menjadi tiga spesies sebagai berikut :

1.    Musang atau Civet Palm Asia (Paradoxurus hermaphrodites)

2.    Musang Cokelat Jerdoni (Paradoxurus jerdoni)

3.    Musang Emas (Paradoxurus zeylonensis)

Selain tiga jenis tersebut, masih ada sekitar 65 subspesies di seluruh dunia, termasuk subspecies rindjanicus dan sumbanus di Indonesia. Namun luwak atau musang yang baik untuk menghasilkan kopi luwak adalah jenis musang pandan dan musang bulan (Panggabean, 2011).

Luwak/musang liar di alam      Luwak/musang dalam penangkaran 

Ciri-ciri fisik binatang luwak adalah bertubuh sedang, panjang luwak dewasa sekitar 70-110 cm (termasuk ekor dengan rincian panjang tubuh sekitar 53 cm dan panjang ekor sekitar 40 cm). Berat tubuhnya 2 s/d 4 kg bahkan ada juga yang lebih. Warna ekor hitam mulus. Sisi atas tubuh berwarna abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah menyebelah tubuhnya (Buldani, 2011).

Luwak sebagai binatang karnivora atau pemakan daging, juga memakan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan makanan lainnya. Salah satu diantaranya adalah kopi gelondongan. Luwak tidak sembarangan dalam memakan dan menelan biji kopi. Ia sangat selektif dalam memilih biji kopi dan hanya memakan biji kopi yang berkualitas, yang sudah tua atau matang di pohon dengan tingkat kematangan yang sempurna, warna merah ranum dan berbau harum. Dalam sekali makan seekor luwak dalam kondisi sehat mampu memakan sekitar 1 sampai 1,5 Kg biji kopi gelondongan. Kopi tersebut kemudian mengalami fermentasi secara alami di dalam perut luwak. Proses fermentasi di dalam sistem pencernaan luwak ini membuat rasa kopi luwak ini begitu sangat berbeda dengan jenis kopi yang lain (kopi biasa). Proses fermentasi secara alami ini menjadikan kopi luwak rendah cafein, berkhasiat untuk meningkatkan vitalitas dan stamina pria, dengan aroma yang khas, lebih harum, wangi, rasa nya lebih enak dan nikmat (Buldani,2011).

Secara sederhana rangkaian produksi kopi luwak (dalam penangkaran) adalah sebagai berikut :

  1. 1.  Menangkap Luwak dari Kebun
  2. 2.  Penangkaran Luwak
  3. 3.  Produksi Kopi Luwak raw beans
  4. 4.  Pencucian
  5. 5.  Penjemuran
  6. 6.  Mengupas Kulit Tanduk (Hulling)
  7. 7.  Penggongsengan (Roasting)
  8. 8.  Penggilingan (Grounding)
  9. 9.  Pengemasan

Kopi yang dimakan oleh luwak mengalami proses fermentasi dalam perut luwak. Biji kopi tersebut dikeluarkan kembali bersama faces-nya (kopi luwak raw beans). Kemudian dicuci bersih, dijemur hingga kering (kadar air + 20%) (green beans). Selanjutnya kopi disangrai (roasting=roasted beans) dan kemudian digiling menjadi kopi luwak bubuk (grounded beans) siap seduh. Alur produksi kopi luwak secara mudah dapat digambarkan sebagai berikut :

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti makanan, Massimo Marcone di Universitas Guelph Ontario Kanada bahwa buah kopi yang dimakan luwak didalam perutnya terjadi proses fermentasi dimana buah kopi di uraikan oleh enzim proteolitik, hal ini menunjukan bahwa sekresi endogen pecernaan hewan luwak itu meresap kedalam biji kopi. Sekresi enzim proteolitik memecah kandungan protein yang terdapat pada biji kopi. Hasil penelitian membuktikan bahwa buah kopi yang telah melewati proses fermentasi pencernaan perut luwak menjadikan buah kopi tersebut sangat rendah cafein, low acid,sangat aman bagi lambung,tinggi kandungan oksigen sangat baik untuk melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kinerja otak, memilki banyak peptide dan asam amino bebas menjadi berkurang. Hipotesis mengatakan bahwa perubahan jumlah protein dan asam amino bebas tersebut menghasilkan rasa yang “unik” dan rasa “nikmat” yang tiada tanding. Menjadikan kopi luwak sebagai kopi yang aman dikonsumsi dan baik untuk kesehatan. Kenikmatan cita rasa kopi luwak tiada tandingnya, sehingga Kopi Luwak ini memiliki level dan kelas tersendiri (Buldani, 2011).

Kenikmatan Kopi Luwak

Mengingat harganya yang cukup mahal, sampai saat ini kopi luwak hanya dikonsumsi oleh kalangan terbatas atau tertentu seperti artis, pengusaha, pejabat, ekspatriat dan lain-lain. Kini kopi luwak sudah bisa ditemui di cafe-cafe high class, hotel berbintang, butique cafe yang dijual dengan harga Rp200.000,- per/cangkir. Predikat kopi luwak di juluki sebagai Kopi termahal di dunia. Harga di pasaran Eropa mencapai 300 euro/kg. Di Amerika Serikat, harga untuk mencicipi kopi luwak adalah US$50. Itu hanya untuk secangkir kopi luwak. Di Hongkong, secangkir kopi luwak bisa dibeli dengan harga Rp300.000,- s/d Rp400.000,-. Di kaki pegunungan Zugpitse, Jerman, harga secangkir kopi luwak sekitar Rp240.000,- Sementara, di Denpasar Bali, secangkir kopi luwak harganya mencapai Rp250.000,-, di Jakarta, sebesar Rp200.000,-. Bahkan, seperti yang dilaporkan Daily Mail dalam situs internetnya (10/4/2008), di Inggris kopi luwak dijual dengan harga sebesar 50 poundsterling atau hampir sama dengan Rp 1.000.000,-. Padahal, masyarakat Inggris terkenal sebagai bangsa peminum teh, bukan peminum kopi (Buldani, 2011).

Di pasar internasional, harga kopi luwak mencapai jutaan rupiah per kg-nya. Kompas(19/1/2011) memberitakan, harga kopi luwak dalam bentuk bubuk di luar negeri mencapai Rp8.000.000,- / kg. Luar biasa mahal, bila dibandingkan dengan harga kopi (biasa) hanya puluhan ribu saja per kg. Untuk kopi terbaik di Indonesia sekelas kopi lampung asli, harga nya paling tinggi Rp 100,000,-/kg, sedangkan kopi luwak  harga  terendah  Rp1.200,000,-/kg  (Buldani, 2011).

  1. III.      PENUTUP

Dulunya, luwak selalu diburu petani kopi karena dianggap sebagai hama dan menjadi musuh petani. Namun demikian, setelah diketahui biji kopi yang dimakan luwak dan mengalami fermentasi alami dalam perut luwak memiliki rasa yang sangat unik dan nikmat serta aroma wangi dengan harga jual yang sangat mahal, maka status luwak berubah dari hewan liar menjadi hewan yang banyak dicari orang untuk ditangkarkan.

Agribisnis kopi luwak sangat potensial sebagai salah satu cara dalam upaya meningkatkan atau menambah pendapatan petani. Bahkan harga kopi luwak jauh lebih mahal dibanding harga kopi biasa, meskipun dibandingkan dengan kopi (biasa) dengan kualitas terbaik. Agribisnis kopi luwak dapat merupakan usaha yang berdiri sendiri sehingga menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi petani kopi. Kopi luwak Indonesia sudah terkenal ke seantero dunia dengan kualitas terbaik No.1 di dunia. Inilah kopi luwak, kopi kebanggaan Indonesia yang diakui dunia. Dunia sudah mengenal kopi luwak Indonesia sejak lama. “This is original product from Indonesia”.

DAFTAR PUSTAKA

Buldani, D., 2011. EBook_Mengungkap Rahasia Bisnis Kopi Luwak. Cicalengka, Bandung.

Panggabean, E., 2011. Mengeruk Keuntungan dari Bisnis Kopi Luwak. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Kopi Arabika Indonesia Segar

Comments

Kopi Luwak Solusi Meningkatkan Pendapatan Petani Kopi — 8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.