Kota Sungai Penuh Kembangkan Kopi Arabika

Kopi Indonesia14 Desember 2013 10:58
Oleh: Syafnijal D Sinaro

SUNGAI PENUH – Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, mengembangkan penanaman kopi jenis arabika sejak dua tahun terakhir, selain tetap memperluas kopi robusta. Hal itu dimaksudkan karena ketinggian sentra kopi di pinggang Gunung Kerinci ini cocok untuk penanaman kopi arabika dan harganya pun lebih mahal.
Hal itu terungkap dalam temu bisnis antara petani kopi, Pemkot Sungai Penuh, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Daerah Lampung dan sejumlah eksportir kopi di Sungai Penuh, Jumat (13/12).

Menurut Herman, Kadis Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kota Sungai Penuh, pihaknya sedang melakukan diversifikasi dengan mengembangkan kopi arabika pada lahan yang berada pada ketinggian 800-1.300 meter di atas permukaan laut. Dari sekitar 850 hektare tanaman kopi di Sungai Penuh, sebagian di antaranya sudah berupa kopi arabika yang dikembangkan sejak dua tahun terakhir. Pihaknya berusaha dalam 10 tahun ke depan bisa mengembangkan kopi hingga 10.000 hektare.

“Dengan diversifikasi ke kopi arabika kami berharap pengembangan kopi di sini bisa lebih cepat karena harga kopi arabika lebih mahal dan ketinggian daerahnya juga cocok,” Herman berujar.

Sementara Wakil Wali Kota Sungai Penuh Adrinal Sahrin mengatakan, sebetulnya kopi kerinci sudah terkenal. Ia pernah minum kopi di sebuah gerai kopi terkenal di ibukota dan dari berbagai kopi yang disediakan terdapat kopi kerinci.

“Tapi, baru kopi robusta, tentu akan lebih baik lagi jika ada kopi arabikanya juga,” ujar Adrinal.

Untuk itu ia mengimbau petani untuk bersungguh-sungguh mengembangkan komoditas ini karena memang kopi kerinci disukai konsumen karena citarasanya tidak kalah dengan kopi daerah lainnya. Ia berharap nantinya kopi arabika kerinci bisa menyamai kopi toraja yang sudah mendunia tersebut.

“Bukan tidak mungkin, apalagi daerah kita lebih tinggi dari permukaan laut dibandingkan dengan toraja. Lagi pula ditanam di pinggang Gunung Kerinci yang sudah terkenal,” kata dia.

Program arabikasisasi yang dijalankan Pemkot Kerinci diapresiasi AEKI Lampung. Ketua Kompartemen Renlitbang AEKI Lampung Muchtar Lutfie menyatakan, dalam pengembangan arabika jangan tanggung sehingga bisa dicarikan pasarnya. Sebab sekali mengekspor kopi minimal 20 ton atau satu kontainer. Jika kurang sulit menjualnya ke luar negeri.

Selain untuk ekspor, Muchtar juga minta petani mengolah biji kopi yang mereka hasilkan menjadi kopi bubuk.

“Coba buat kopi bubuk yang diblending antara robusta dengan arabika, saya yakin citarasanya akan lebih enak dibandingan hanya robusta saja sehingga laku dijual,” kata Muchtar didampingi Ketua Kompartemen Hukum dan Arbitrase AEKI Lampung Azischan Satib.

Milfahferi, petani kopi yang hadir dalam temu bisnis tersebut menyatakan, ia sudah menanam setengah hektare kopi arabika sejak dua tahun silam. Kini, dia mulai berbuah. Ia berharap, kepada pemerintah dan AEKI agar produksi kopinya nanti bisa laku dijual dengan harga tinggi sehingga ia bersemangat untuk memperluas kebunnya.

“Ya, kami petani berharap harga kopi arabika lebih mahal dibandingkan robusta supaya kami bersemangat lagi,” kata Feri yang mengaku membeli sendiri bibit kopi arabika yang ditanamnya tersebut.

Petani lainnya Hadi juga mengaku sudah menanam 2 hektare kopi arabika di desanya Renah Kayu Embun, Kecamatan  Kumun Debai, pada ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut. Namun, karena kekurangan modal kopi tersebut tidak dipupuk. Kendati begitu, pertumbuhannya cukup bagus karena tanahnya subur.

Sumber : www.sinarharapan.co

Kopi Arabika Indonesia Segar


Leave a Reply

Your email address will not be published.