Pengusaha Asal Jayapura Tertarik Kopi Arabika Wamena

kopi wamenaBy: Editor BeritaWamena: 15/06/2014 21:10

Wamena,-Tidak dapat dipungkiri, saat ini salah satu komoditi unggulan di bidang pertanian yang cukup menjanjikan adalah pengembangan Kopi Arabika Wamena Papua asal Kabuapten Jayawijaya. Kopi Arabika Wamena yang tumbuh di Wilayah Pegunungan dengan iklim tropisnya dan curah hujan yang cukup tinggi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan hasil produksi kopi di daerah lainnya di luar Papua.

Jika petani kopi di luar Papua hanya mampu panen hasil produksi kopi setahun dua kali, berbeda dengan kopi arabika yang tumbuh di wilayah pegunungan, khususnya di Wamena yang tumbuh di tempat ketinggian dan mampu menghasilkan produksi yang cukup banyak dalam setahun.

Dengan perhitungan hasil produksi yang cukup menjanjikan setiap tahunnya, salah satu perusahaan kopi yang berkedudukan di Jayapura yakni pabrik kopi garuda tertarik terhadap kopi arabika, sehingga datang dan mengunjungi para petani kopi yang ada di Wilayah Pegunungan Tengah, diantaranya petani kopi asal distrik Tangma dan Kurima kabupaten Yahukimo, Petani Kopi Yagara, Piramid, Bolakme dan beberapa kelompok petani kopi yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kopi Arabika Jayawijaya dan berkoordinasi guna membeli kopi gabah dengan harga tinggi.

Jika tahun-tahun sebelumnya, harga jual kopi gabah sebesar Rp. 25.000- Rp 30.000, saat ini seorang pengusaha kelahiran Jayapura tahun 1980 yang juga pemilik Pabrik Kopi Garuda Jayapura siap membeli dengan harga tinggi sebesar Rp. 40.000 per kilogramnya tanpa syarat.

“Maksud saya, pihak kami Pabrik Kopi Garuda Jayapura siap membeli kopi gabah arabika milik masyarakat ini dengan harga tinggi tanpa syarat adalah, kopi gabah yang dijual tersebut kalaupun ada gabahnya yang rusak atau pecah bijinya dan tidak terpakai, kami tetap akan bayar sesuai harga perkilo yang tadi saya sampaikan”,tegas Piter Tan yang juga adalah anggota SCAE (Speciality Cofee Association of Europe).

“Bahkan kami siap membeli langsung di tempat tanpa petani kopi repot-repot membawa hasil kopi gabahnya ke kota”,imbuhnya meyakinkan petani.
“Contoh soal, petani Kopi asal distrik Tangma, punya hasil panen produksi kopi yang sudah di panen dan dikuliti serta telah dijemur dan kering, tinggal menghubungi kami, kami langsung datang, kami bayar di tempat, dan kami yang akan kembali ke kota Wamena dan selanjutnya mengirim ke Jayapura”, tambahnya dengan senyum.

”Tapi ada syarat yang kami berikan kepada para petani kopi, syaratnya adalah harus siapkan hasil panen sebanyak 1 ton lalu menghubungi kami, sebab biaya pengangkutan 1 ton akan lebih meringankan kami jika dibandingkan dengan seratus atau dua ratus kilogram lalu kami harus bayar ongkos transport nanti lebih besar dari hasil produksi yang kami harapkan”, tandasnya yang disambut tepukan dari para petani yang hadir.

Pengusaha dari pabrik Kopi Garuda Jayapura juga langsung menanamkan investor dananya melalui pengusaha petani kopi asal Yagara, bapak Lanny, sehingga bilamana ada petani kopi yang hendak menjual sendiri kopi gabahnya tanpa menunggu hingga mencapai 1 ton, dapat langsung di bawa ke koperasi Kopi Yagara. Pada kesempatan tersebut juga pengusaha kelahiran Jayapura tersebut memberikan bantuan mesin pengupas kulit biji kopi sebanyak tiga unit untuk membantu para petani agar tidak kewalahan dalam mengolah dan menguliti biji-biji kopi yang telah di panen yang disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Jayawijaya.
“Saya melihat sistem panen dari para Petani Kopi ini yang masih kurang, sebab biasanya waktu untuk memanen buah kopi yang bagus adalah dipanen setiap dua hari sekali, sedangkan saat ini cara petani kopi di sini memanen buah kopinya seminggu sekali, sehingga banyak buah yang menjadi tua, kemudian jatuh dan bahkan ada yang membusuk di pohon. Ini sangat di sayangkan sekali, bahkan saya dapat memperkirakan bahwa satu perkebunan kopi contohnya di Yagara saja, mampu menghasilkan 1 ton perbulannya”, kata Piter Tan, yang juga seorang lulusan dari Cofee Roasting training by Marcell Knitter (Probat-Germany).
“Jadi perhitungan saya, kalau satu ton di hargai Rp 40.000 per kilo, seorang petani kopi sudah dapat menghasilkan uang sebesar Rp 40 Juta perbulannya, nah kalau keunikan kopi arabika Jayawijaya ini bisa di panen hingga tiga kali setahun, maka keuntungan salah satu petani kopi saja sudah bisa menghasilkan uang sebesar Rp 120 Juta. Itu baru menghasilkan produksi kopi gabah”, tambahnya.

“Kenapa saya berani berinvestasi dengan petani kopi dan membeli kopi gabah mereka dengan harga tinggi dan resiko yang besar? Karena saya melihat keunikannya serta keharumannya serta hasil produksi jika telah di jadikan kopi ini akan mengangkat nama daerah, nama Papua ke kancah Internasional”, tegas Piter Tan.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Jayawijaya, Pilipus Hubi juga berpendapat bahwa dengan adanya investor serta kehadiran dari pengusaha yang siap membeli hasil panen kopi arabika Wamena, dirinya berharap para petani sudah tidak perlu khawatir lagi siapa yang akan membeli hasil panen mereka, tetapi sebagai gantinya, para petani sekarang harus siap dan kembali ke kebunnya untuk mulai membersihkan kebun kopi dan meningkatkan hasil produksi kopinya masing-masing.
“Menurut saya, kehadiran pengusaha kopi yang siap membeli hasil produksi langsung dari petani Kopi ini sangat membantu sekali, karena selama ini kami selalu mendapatkan informasi bahwa harga beli kopi gabah tidak jelas, bahkan terkesan sangat murah.

Oleh sebab itu, dengan adanya pertemuan ini, saya berterima kasih kepada pihak pabrik Kopi Garuda Jayapura yang siap membeli hasil produksi biji kopi ini dengan harga yang sangat jelas bagi para petani kopi”, tandas Ketua Asosiasi Petani Kopi yang juga seorang anggota aparat Kepolisian Polres Jayawijaya.
Kendala utama yang dari petani kopi arabika di Wamena ini adalah, mereka harus diajarkan cara memanen kopi yang benar, kemudian tenaga kerja pengumpul kopi yang sama sekali tidak ada serta cara mengupas kulit biji kopi yang harus menjaga agar biji kopi tidak cacat dan pecah-pecah.
Dengan terbukanya kesempatan ini, Asosiasi Petani Kopi Arabika Jayawijaya bersama pihak Petani Kopi Arabika di Wamena diharapkan akan mampu menyiapkan hasil produksi kopi gabah setiap bulannya sebesar satu ton kedua pihak, antara pengusaha dan petani kopi, dua-duanya akan dapat memperoleh keuntungan bersama. (Naftali Rumbiak/WorldPapua)

Sumber:
http://worldpapuanews.com/2014/06/15/pengusaha-asal-jayapura-tertarik-kopi-arabika-wamena.html

Kopi Arabika Indonesia Segar


Leave a Reply

Your email address will not be published.